Hal yang Bikin Scaffolding Tidak Aman Buat Dinaiki
“Sebagian besar kecelakaan kerja di ketinggian terjadi karena perancah tidak dipasang atau digunakan sesuai ketentuan keselamatan.”
Banyak dari kita melihat scaffolding sebagai alat bantu sementara. Padahal, struktur ini menahan beban manusia, material, dan peralatan di ketinggian. Saat ada satu saja komponen yang luput diperhatikan, risiko jatuh dan cedera meningkat tajam. Karena itu, memahami penyebab scaffolding tidak aman menjadi langkah awal yang masuk akal sebelum seseorang naik dan bekerja di atasnya.
Pondasi yang tidak siap menahan beban
Scaffolding membutuhkan alas yang kuat dan rata. Tanah yang lembek, miring, atau tidak dipadatkan sering menjadi sumber masalah. Dalam kondisi ini, beban kerja tidak tersalurkan dengan baik ke tanah sehingga perancah bisa bergeser atau amblas.
Banyak kasus terjadi karena kita menganggap permukaan tanah sudah cukup keras, padahal belum diuji atau diratakan. Padahal, perbedaan beberapa sentimeter saja dapat memengaruhi kestabilan seluruh struktur.
Pemasangan komponen tidak sesuai susunan

Perancah tersusun dari rangka, pengunci, pengaku silang, dan platform kerja. Jika satu bagian tidak terpasang sesuai urutan, kekuatan struktur berkurang. Scaffolding tidak aman sering berawal dari kebiasaan mempercepat pekerjaan dengan melewati langkah pemasangan tertentu.
Hal yang kerap terjadi antara lain:
- Pengunci tidak terpasang penuh sehingga sambungan mudah lepas.
- Pengaku silang dilepas agar akses lebih lebar.
- Platform kerja tidak dikunci dan hanya diletakkan begitu saja.
Langkah-langkah kecil ini tampak sepele, tetapi dampaknya besar saat perancah mulai dinaiki.
Beban kerja melebihi kemampuan scaffolding
Setiap scaffolding memiliki batas beban. Masalah muncul ketika terlalu banyak orang, material berat, atau peralatan ditumpuk di satu titik. Kita sering berpikir bahwa beban tersebut hanya sementara, sehingga dianggap aman.
Dalam praktiknya, beban berlebih membuat rangka melenting, sambungan longgar, dan papan kerja melendut. Kondisi ini bukan hanya berbahaya bagi pekerja di atasnya, tetapi juga bagi orang di sekitar area kerja.
Tidak adanya pengaman dasar bagi pekerja
Scaffolding yang aman tidak hanya berdiri kokoh, tetapi juga melindungi orang yang bekerja di atasnya. Sayangnya, pagar pengaman, papan pijakan penuh, dan akses naik turun yang layak sering diabaikan.
Beberapa kondisi yang patut diwaspadai:
- Tidak ada pagar di sisi terbuka.
- Tangga naik tidak terpasang permanen.
- Jarak antar papan terlalu renggang.
Tanpa pengaman ini, satu langkah yang keliru bisa berujung pada jatuh dari ketinggian.
Kurangnya pemeriksaan sebelum digunakan
Scaffolding seharusnya diperiksa setiap hari, terutama setelah dipindahkan atau terkena hujan dan angin kencang. Banyak dari kita langsung menggunakannya tanpa mengecek ulang kondisi baut, pengunci, dan papan kerja.
Pemeriksaan sederhana sebenarnya dapat mencakup:
- Memastikan semua sambungan terkunci.
- Mengecek papan tidak retak atau lapuk.
- Memastikan perancah berdiri tegak dan tidak bergoyang.
Kebiasaan ini sering diabaikan karena dianggap memakan waktu, padahal justru mencegah gangguan kerja yang lebih besar.
Memahami hal-hal yang membuat scaffolding tidak aman membantu kita bersikap lebih waspada saat bekerja di ketinggian. Bagi para profesional yang ingin memperdalam pemahaman teknis tentang perancah, mulai dari dasar pemasangan hingga penggunaan yang aman, pendalaman materi melalui program basic scaffolding dapat menjadi ruang belajar yang terarah dan terstruktur. Untuk diskusi lebih lanjut atau informasi mengenai program pendalaman materi ini, silakan hubungi (0274) 4530527.